Pedoman Resmi Lingkungan Hidup

Memahami Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)

Panduan lengkap mengenai klasifikasi mutu udara, batas ambang polutan, dan langkah proteksi kesehatan masyarakat Kota Banjarmasin.

ℹ

Dasar Hukum & Definisi ISPU

Permen LHK No. P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2020

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu, yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika, dan makhluk hidup lainnya.

Peraturan Menteri LHK No. 14 Tahun 2020 menetapkan 7 (tujuh) parameter kritis yang dipantau dalam stasiun Automatic Air Quality Monitoring System (AQMS), yaitu: Partikulat PM2.5, Partikulat PM10, Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO₂), Nitrogen Dioksida (NO₂), Ozon Permukaan (O₃), dan Hidrokarbon (HC).

Kategori ISPU & Tindakan Kesehatan

Rentang nilai indeks dan rekomendasi aktivitas bagi masyarakat umum dan kelompok sensitif.

0 - 50: BAIK Hijau

Dampak: Tingkat kualitas udara yang sangat baik, tidak memberikan efek negatif terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan.

Panduan: Sangat ideal untuk semua orang melakukan kegiatan di luar ruangan tanpa pembatasan.

51 - 100: SEDANG Biru

Dampak: Tingkat kualitas udara masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Panduan: Kelompok sensitif (anak-anak, penderita asma, lansia) disarankan mengurangi aktivitas fisik berat yang terlalu lama di luar ruangan. Masyarakat umum masih dapat beraktivitas normal.

101 - 200: TIDAK SEHAT Kuning

Dampak: Tingkat kualitas udara bersifat merugikan pada manusia atau kelompok hewan yang sensitif, atau dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuhan serta nilai estetika.

Panduan: Kelompok sensitif sebaiknya membatasi waktu berada di luar ruangan. Perhatikan gejala seperti batuk atau sesak napas. Penderita asma dan jantung harus membawa obat yang diresepkan. Masyarakat umum sebaiknya mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama di luar ruangan.

201 - 300: SANGAT TIDAK SEHAT Merah

Dampak: Tingkat kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko kesehatan pada sejumlah besar segmen populasi yang terpapar.

Panduan: Kelompok sensitif harus menghindari semua aktivitas di luar ruangan dan memperbanyak waktu di dalam ruangan. Masyarakat umum hindari aktivitas fisik lama di luar ruangan dan gunakan masker respirator (seperti N95).

> 300: BERBAHAYA Hitam

Dampak: Tingkat kualitas udara berbahaya secara umum yang dapat mengakibatkan dampak kesehatan serius pada seluruh populasi dan membutuhkan penanganan darurat.

Panduan: SEMUA ORANG harus menghindari aktivitas luar ruangan, tetap berada di dalam ruangan dengan jendela/pintu tertutup rapat, nyalakan air purifier jika ada, dan ikuti panduan darurat dari dinas lingkungan hidup atau instansi kesehatan setempat.

7 Parameter Pencemar Udara

Karakteristik polutan dan batas baku mutu lingkungan hidup.

PM2.5 µg/m³
Partikulat Halus (≤ 2.5 µm)

Partikel mikroskopis yang dapat menembus saluran pernapasan dalam dan masuk ke aliran darah.

PM10 µg/m³
Partikulat Kasar (≤ 10 µm)

Partikel debu kasar dari aktivitas jalan, konstruksi, atau kebakaran.

SO₂ µg/m³
Sulfur Dioksida

Gas dari pembakaran bahan bakar fosil yang dapat mengiritasi sistem pernapasan.

CO µg/m³
Karbon Monoksida

Gas tidak berbau hasil pembakaran tidak sempurna kendaraan dan industri.

O₃ µg/m³
Ozon Permukaan

Ozon di permukaan tanah yang terbentuk akibat reaksi fotokimia sinar matahari.

NO₂ µg/m³
Nitrogen Dioksida

Gas beracun kemerahan yang berasal dari emisi kendaraan bermotor dan pembangkit.

HC µg/m³
Hidrokarbon

Senyawa organik volatil yang mudah menguap ke udara.

Metodologi & Kebijakan Data

Perbedaan ISPU dan AQI Internasional: Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Indonesia memiliki rumus konversi, konsentrasi ambang batas, dan warna kategori yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Skala ini berbeda dengan US AQI (Air Quality Index) maupun indeks negara lain. Oleh karena itu, angka ISPU tidak dapat disamakan secara langsung dengan indeks platform luar negeri tanpa standardisasi.

Keterbatasan Data: Kualitas pembacaan sensor sangat bergantung pada kondisi pemeliharaan stasiun pemantau, kalibrasi berkala instrumen otomatis, suplai listrik, dan jaringan telemetri. Jika terjadi pemeliharaan stasiun atau gangguan transmisi, status data kedaluwarsa akan ditampilkan untuk menjaga transparansi kepada masyarakat.

Atribusi Sumber Data: Data resmi diperoleh dari stasiun pemantauan kualitas udara KLHK/KemenLH di Kota Banjarmasin. Sumber alternatif (OpenAQ dan WAQI) diintegrasikan secara terpisah sebagai perbandingan dan tidak pernah diklaim sebagai ISPU resmi Indonesia.